Tuesday, 13 January 2015

Tafsir Jami’ al-Bayan Fi Tafsir al-Qur’an Karya at-Tabari’: Karakteristik Penafsiran

Sebuah tafsir dilihat karakteristiknya paling tidak dilihat dari aspek-aspek yang berkaitan dengan gaya bahasa, laun (corak) penafsiran, konsistensi metodologis, sistematika, akurasi dan sumber penafsiran, kekuatan (daya) kritis, kecendrungan aliran (mahzab) yang diikuti dan objektivitas penafsirnya.
            Dari sisi linguistik, Ibn Jarir at-Tabari sangat memperhatikan penggunaan bahasa Arab sebagai pegangan dengan bertumpu kepasa sya’ir-syair Arab kuno dalam menjelaskan makna kosakata, acuh kepada aliran-aliran ilmu gramatika bahasa atau yang biasa disebut dewasa ini dengan sebutan Nahwu, dan penggunaan gaya bahasa yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat. Ia juga sangat kental dengan riwayat-riwayat sebagai sumber penafsiran, yang disandarkan pada pendapat  dan pandangan para sahabat , tabi’ dan tabi’ al’tabi’in melalui hadis yang mereka riwayatkan (bi’al-Ma’tsur) semua itu siharapkan menjadi detektor bagi ketepatan pemahaman mengenai suatu kata atau kalimat.[1] Ia juga menempuh jalan istinbat ketika menghadapi sebagian kasus hokum dan pemberian isyarat terhadap kata-kata yang samar I’rab-nya.[2] Dalam kitab itujuga pemaparan qiraatnya secara variatif, dan dianalisi dengan cara dihubungkan dengan makna-makna yang berbeda-beda kemudian mengambil qira’at yang ia anggap kuat dan tepat.
            Al-Tabari selain sorang mufasir dia adalah seorang ilmuan, tidak terjebak dalam belenggu taqlid,[3] terutama dalam mendiskusikan malasah-masalah yang berkaitan dengan fiqih. al-Tabari selalu berusaha untuk menjelaskan ajaran-ajaran Islam dalam al-Quran tanpa melibatkan diri dalam perselisihan yang mengakibatkan perpecahan.
            Untuk persoalan masalah kalam, persoalan yang menyangkut tentang akidah dan eskatologis, ia terlibat di dalam diskusi yang cukup intens. Dalam sifat fanatisnya tampak cukup kentara, jika ia harus membela aid as-Sunnah wal Jami’ah, pada saat itu berhadapan dengan beberapa pandangan aliran Mu’tazilah dalam doktrin tertentu. Al-Tabari terkesan menyerang dengan gigih penafsiran metaforis dan ajaran-ajaran dogmatis mereka, meskipun ia telah berusaha keras untuk mengambil posisi yang Moderat.




[1] Manna al-Qattan, Mabahisi fi Ulum al-Qur’an, ( T.tp.: Masyurat ‘Ashr al-Hadits, 1393H/1973M), hlm 363
[2] M. Quraish Shihab,”Ibn Jarir al-Thabari: Guru Besar para ahli Tafsir” dalam jurnal Ulumul Qur’an, Vol. I. 1989, hlm 5 kapasitas al-Tabari sebagai ahli Qiraat yang berguru kepada Qolun disamping Mujahid dimunculkan secara konsisten dalam tafsirnya.
[3] Abd al-‘Ati Muhammad Ahmad, al-Fikr al-Siyasi li al-Iman Muhammad ‘Abduh (Kairo:al-Hai’ah al-Misriyyah li al-Kitab, 1978), hlm 117. Jejak ini pun membawa pengaruh mufasir sesudahnya, paling tidak olehal-Qurtubi dan Abu Muslim al-Ishfahani .

No comments: