Saturday, 17 January 2015

Tafsir Ma’anil Qur’an karya al-Farra’: Konstruksi Corak Bahasa

Kitab Tafsir Ma’anil Qur’an karya terlahir dari dari seorang ahli tata bahasa, dia lahir di saat masyarakat  condong terhadap ilmu-ilmu rasional sedang melanda mereka akibat patronase Islam. Tafsir adalah anak zaman[1] sehingga selalu berjalan dengan menunjukkan di mana dan kapan tafsir tesebut dibuat. al-Farra’. Unruk menentukan hal kesejarahan penulis dan ruang waktunya atas kitab tafsir ini maka perlulah komponen dalam susunan tafsir ini dijabarkan.
Bagian pendahuluan kitab tafsir ini menggambarkan hakikat dari kitab Tafsir Ma’anil Qur’an ini. Perawi tingkat kedua dari naskah kitab ini meriwayatkan dari periwayat pertama yakni Muhammad Ibn al-Jahmi bahwa pertama kali, pengarang kitab ini yaitu al-Farra’ menyatakanbahwa karyanya ini adalah  Tafsir Musykil I’rab al-Qur’an wa Ma’anih[2] yang artinya “Penafsiran atas problem I’rab dan semantika al-Qur’an” jika ungkapan ini adalah nama bagi karya tafsirnya ini, maka nama ini mengekspresikan maksud al-Farra’ bahwa tujuan dari kitab Ma’anil Qur’an ini tidak lain hanya membahas masalah-masalah tata bahasa (gramatika) dalam al-Qur’an yang akan berpengaruh terhadap pemaknaan di dalam al-Qur’an. Misalnya kupasan pada surat al-Fatihah hanya terkonsentrasikan pada alif  dalam kata ­isim      pada lafazh bismillah, I’rabnya  lafazh ghoir  dan makna la  dalam lafazh potongan ayat terakhir surat al-Fatihah (­wala al-dhallin).[3]
Penafsiran al-Farra’ atas ayat pada surat al-Fatihah dapat dijadikan tolak ukur mengenai maksud dari pembuatan kitab Ma’anil Qur’an ini, dengan kata lain ialah bahwa visi dan misi dari kitab ini membahas tentang persoalan I’rab dan tata bahasa di dalam al-Qur’an yang dirancang melalui pemberian nama atas karyanya ini. Untuk meralisir tujuan ini sudah tentu al-Farra’ dituntut untuk memenuhi syarat tertentu sebagai konsekuensi dari tujuannya. Persyaratan tesebtu menyankut sumber bahan dari mana al-Farra’ mengambil bahan-bahan penafsiran yang dibutuhkannya, kemudian identifikasi objek penafsirannya dan bagian-bagian mana dari al-Qur’an yang dapat dijadikan  objek dalam merealisir metodologi yang disusunnya.
Dua hal inilah yang akan ditinjau dalam bagian berikut, yakni tentang sumber bahan penafsirannya, objek sasaran bidik penafsirannya dan langkah-langkah tekhnis penafsirannya atau sistematisasi bahan-bahan penafsirannya.
A.     Sumber Bahan Penafsiran al-Farra’
Sumber Penafsiran yang dimaksud ini adalah acuan dasar sebagai tempat mufasir menggali bahan-bahan untuk bangunan penafsirannya. Tentang hal ini, para mufasir dalam sejaranya memilih acuannya sesuai dengan mainstream pemikiran zamannya di sammping minat individu. Akibatnya, ada mufasir yang yang lebih mengunggulkan teks dasar Islam (Qur’an, Hadis, atau atsar pada umumnya), tetapi ada juga yang lebih mengunggulkan acuan lain seperti halnya cerita dari luar islam (isriliyat), syair Arab klasik, atau bahkan penemuan-penemuan di bidang keilmuan sosial. Hal yang demikian (Israiliyat dll) termasuk dalam bagian non atsar (biasa disebut ra’yu)
Al-Farra’ adalah seorang ahli bahasa sehingga dapat dikatakan bahwa al-Farra’ juga tertarik pada sumber-sumber tertentu yang dia unggulkan dan tidak diunggulkan oleh mufassir lain. Sekarang timbullah sebuah persoalan yakni sebuah pertanyaan lantas sumber apa yang di unggulkan oleh al-Farra’ sebagai acuan tempat mengambil bahan-bahan yang dipakai untuk susunan penafsirannya. Persoalan tersebut bisa terjawab dengan menganalisis ungkapannya dalam memuai aktivitas penafsirannya.
Setelah al-Farra’ memberi nama atas karyanya ini, Beliau mengatakan:
“Persoalan pertama tentang penafsiran atau kupasan tentang I’rab al-Qur’an adalah kesepakatan Qurra’ dan penulis mushaf untuk membuang alif pada kata Ism  dalam lafazh bismillahir rahmanir rahim. Para Qurra’ tidak membuang alif pada lafazh fasabbih bismi rabbikal ‘azim (Qs. Al-Waqi’ah [56] 74,,,),[4]

Ungkapan yang tegas tentang para ahli qira’at dan penulis mushaf, ini menujukkan bahwa al-Farra’ menjunjung dan menempatkan Qurra’ atau penafsir lain disisi lebih tinggi dari padanya. Beliau tidak mengorek bagaimana Nabi atau mufassir generasi pertama seperti al-Tabari misalnya. Dari ungkapan tersebut mangartikan bahwa al-Farra’ tidak menaruh perhatian pada sumber penafsiran oleh Qurra’ yang lain yang lebih dulu karena beda orientasi dan kepentingan tujuan dengannya. Sebagai contoh saja, al-Farra’ tidak pernah memperdebatkan posisi bismillah dalam surat al-Fatihah, atau mengapa bismillah ditempatkan diawal surat, apa makna dan pesan teologis dari lafazh ini.
Al-Farra’ mengganggap mufassir beda dengan ahli qira’at dalam hal yang meyangkut kepentingannya sebagai peminat studi gramatika Arab. Pemilahan antara ahli qira’an dan mufassir oleh al-Farra’ lebih tampak jelas ketika al-Farra’ membahas potongan ayat dalam (Qs. 79: 11).[5]lafazh al-Nahirah dalam ayat ini oleh al-Farra’ diberi komentar dengan pernyataannya:
Beberapa Qurra membacanya denganpendek pada huruf na dan Qurra’ yang lain membacanya dengan huruf harakat panjang (artinya para Qurra’ menganggap sama konsekuensinya dalam penafsiran sehingga dapat dipakai dua-duanya) sedangkan para mufassir membedakan keduanya,,,”[6]

Pernyataan al-Farra’ tersebut menunjukkan bahwa beliau memposisikan ahli qira’at berbeda dengan ahli mufasir ada perkiraan yang kuat bahwa perbedaan ini dilator belakangi oleh perbedaan hubungan alhli qira’at dengan mufassir. Ahli grammer merupakan jaringan dari ahli qira’at tapi tidak mempunyai hubungan dengan mufasir. Karena qira’at merupakan sebagian besarnya ekspresi gramatik, sedang tafsir adalah tindakan mufasir dalam eksplanasi tekstualnya. Dugaan ini diperkuat oleh fakta bahwa jaringan Isnsd para qurra’ terutama di Kuffah banyak terdiri dari para ahli grammer tetapi  tidak demikian halnya dengan jaringan isnad dalam tafsir (mufasir).[7]
B.     Objek Formal Penafsiran al-Farra’
Maksud dari objek formal di sini adalah titik bidik penafsirannya. Al-Farra’ hanya menemukan dan membahas apa yang dianggapnya merupakan sebuah problem I’rab dalam ayat tertentu dalam al-Qur’an. Itulah mengapa hanya tertarik pada penggalan ayat tertentu saja. Kadang yang mearik perhatiannya adalah berupa Syakal dari kata tertentu dalam al-Qur’an, misalnya dalam masalah tertentu pada surat al-Fatihah adalah harakat lafazh alhamdu atau tidak beri vokalnya huruf-huruf muqatta’ah di awal beberapa surat seperti di awal surat al-Baqarah.[8] Kadang pula beliau tertarik unruk berkomentar banyak tentang pemilihan kata terntu yang tidak bisa digantikan dengan kata yang lain karena perbedaan fungsi. Misalnya pada potongan pada ayat 81 surat al-Baqarah ” ...bala man kasaba syaiatan...”[9]. Untuk hal ini al-Farra’ hanya tertarik untuk berkomentar  tentang perbedaan fungsi kata jawab antara na’am dengan kata jawab bala. Al-Farra’ menyatakan:
”Kata bala hanya spesial sebagai kata jawab bagi pernyataan atau pertanyaan yang mengandung penyangkalan atau penolakan. Sedangkan kata na’am ditempatkan sebagai kata jawab pagi pertanyaan yang tidak mengandung penolakan. Kata bala memang memiliki kedudukan yang sama dengan na’am, hanya saja yang pertama tidak digunakan
kecuali ada pengingkaran diawalnya.”[10]

Dari penjelasan panjang lebar di atas terlihat bahwa al-Farra’ memilih objek penafsiran kata yang dianggapnya sebagai problem i’rab saja dan kajiannya pada satu kata saja dalam sebuah ayat. Akan tetapi pada uraiannya mengenai ayat-ayat dalam surat-surat akhir dalam mushaf tampaknya ia perlu menuliskan keseluruhan ayat secara lengkap dalam satu surat seperti dalam surat al-Adiyat.


[1] Ahmad Baidawi, 2010, Studi Kitab Tafsir Klasik – Tengah, Yogyakarta: TH Press¸ hlm 11
[2] Al-Farra’, Ma’anil Qur’an,…, I, hlm 1.
[3] Ibid,I, hlm 1-8.
[4] Ibid, L, hlm 2-3
[5]Ibid, III, hlm, 232
[6] C.H.B. Vers tecgh, Arabic Grammar and Qur’anic Essegesis ini Early Islam, (New York: E-J. Brill, 1993), hlm. 175
[7] al-Farra’, Ma’anil Qur’an,..., III:71
[8] Ibid,I, hlm 2, 5 dan 9
[9] Ibid,I, hlm 52-53
[10]Ibid

No comments: