Tuesday, 13 January 2015

Tafsir Ma’anil Qur’an Karya Al-Farra’: Sejarah Penulisan

Kitab Ma’anil Qur’an ditulis Oleh Abu Zakariyah Yahya Ibn Ziyad Ibn ‘Abdillah Ibn Manzur al-Dailami. Beliau adalah tokoh yang dinisbatkan pada kota Dailam, salah satu Propinsi di Persia. Penulisan kitab tersebut dalam catatan sebuah sejarah adalah bahwasannya kitab tersebut ditulis karena adanya sebuah pesanan. Pesanan ini dialamatkan kepada al-Farra’ tentu karena bahwa al-Farra’ pada saaat itu adalah sosok yang pantas untuk dijadikan sumber informasi menyangkut istilah istilah tertentu dalam al-Qur’an yang hanya dapat dianalisis oleh ahli bahasa.
            Menurut catatan al-Zahabi, Pada tahun 1956 penerbit Dar al-Kitab al-Misriyah mencetak kitab ini tetapi hanya juz pertama dan berakhir dengan Surat Yunus, sementara juz yang lainnya belu,lah dicetak[1]. Kisah tentang sebab-sebab disusunnya kitab Ma’anil Qur’an menyebutkan bahwa seorang murid al-Farra’ yang bernama Umar ibn Bakri tidak bisa menjawab pertanyaan gubernur al-Hasan ibn Sahl menyangkut persoalan al-Qur’an. Lalu sang murid mengirimkan sebuah surat kepada al-Farra’ yang berisi meminta bantuan dalam bentuk buku yang berisis prinsip-prinsip penafsiran atau buku rujukan sebagai pegangan dalam memberikan jawaban atas pertanyaan dari gubernur al-Hasan ibn Sahl.
            Sejak saat itulah al-Farra’ mengumpulkan murid-muridnya pada hari tertentu hanya untuk mendiktekan kitab Ma’anil Qur’an ini. Cara yang ditempuh al-farra’ dalam hal ini bukan melalui konsep naskah terlebih dahulu tetapi secara langsung setelah dibacakan ayat tertentu oleh salah seorang murid yang ditunjuk oleh al-Farra’. Karena keunikannya ini maka Abul Abbas kemudian berkomentar :
“Belum pernah seorang sebelumnya yang menempuh cara seperti ini”[2]
Kata-kata inilah yang menimbulkan perdebatan apakah karya al-Farra’ ini merupakan kitab tafsir sistematis pertama atau bukan. Terlepas dari persoalan karya siapa yang sengaja disusun secara sistematis dalam hal tafsir al-Qur’an  yang pasti apa yang dilakukan oleh al-Farra’ menunjukkan bahwa tidak seperti mufasir-mufasir sebelumnya yang menafsirkan al-Qur’an secara sporadic sesuai dengan kebutuhan spesifik, beliau sengaja menyusun kitab dengan cara sistematis dan lengkap mengenai istilah-istilah dalam al-Qur’an yang memerlukan kupasan atau mungkin menimbulkan pertanyaan. Itulah  kenapa kitab ini disebut dengan  Ma’anil Qur’an  yang berarti makna kata-kata tertentu dalam al-Qu’an sebagai pedoman yang menjawab persoalan yang timbul di kalangan masyarakat menyangkut al-Qur’an
            Dalam sebuah sejarah menyebutkan ada sesorang yang bernama Muhammad Ibn al-Jahm al-Simari, beliau salah satu dari banyaknya orang yang mencatat dari ceramah al-Farra, beliau memiliki minat lebih dan intensitas yang lebih tinggi untuk menulis ceramah al-Farra’. Hasil kodifikasinya atas ceramah al-Farra’ sempat dicek dan dan dibaca ulang oleh al-Farra’ sendiri semasa hidupnya. Karena itulah mengapa al-Simari menjadi salah satu perowi yang paling popular di antara perawi-perawi Ma’anil Qur’an yang lainnya. Menurut al-Simari yang dikutib langsung  oleh editor kitab ini, Kitab Ma’anil Qur’an didektekan al-Farra’ dari hafalannya langsung tanpa catatan dalam suatu majelis (forum yang dijadwalkan setiap Selasa dan Jum’at pagi sejak bulan Ramadhan tahun 202 Hijriyahhingga di beberapa bulan  tahun 204 Hijriyah.





[1] Muh. Husein al-Zahabi, al-Tafsir wal Mufasirun,…, hlm. 142
[2] Muh. Ali al-Najjar,”Mugaddimah”, hlm 12-13

No comments: