Kitab Ma’anil Qur’an ditulis Oleh Abu
Zakariyah Yahya Ibn Ziyad Ibn ‘Abdillah Ibn Manzur al-Dailami. Beliau
adalah tokoh yang dinisbatkan pada kota
Dailam, salah satu Propinsi di Persia. Penulisan kitab tersebut dalam catatan
sebuah sejarah adalah bahwasannya kitab tersebut ditulis karena adanya sebuah
pesanan. Pesanan ini dialamatkan kepada al-Farra’ tentu karena bahwa al-Farra’
pada saaat itu adalah sosok yang pantas untuk dijadikan sumber informasi
menyangkut istilah istilah tertentu dalam al-Qur’an yang hanya dapat dianalisis
oleh ahli bahasa.
Menurut
catatan al-Zahabi, Pada tahun 1956 penerbit Dar al-Kitab al-Misriyah mencetak
kitab ini tetapi hanya juz pertama dan berakhir dengan Surat Yunus, sementara
juz yang lainnya belu,lah dicetak[1]. Kisah
tentang sebab-sebab disusunnya kitab Ma’anil Qur’an menyebutkan bahwa seorang
murid al-Farra’ yang bernama Umar ibn Bakri tidak bisa menjawab pertanyaan
gubernur al-Hasan ibn Sahl menyangkut persoalan al-Qur’an. Lalu sang murid
mengirimkan sebuah surat kepada
al-Farra’ yang berisi meminta bantuan dalam bentuk buku yang berisis
prinsip-prinsip penafsiran atau buku rujukan sebagai pegangan dalam memberikan
jawaban atas pertanyaan dari gubernur al-Hasan ibn Sahl.
Sejak saat
itulah al-Farra’ mengumpulkan murid-muridnya pada hari tertentu hanya untuk
mendiktekan kitab Ma’anil Qur’an ini. Cara yang ditempuh al-farra’ dalam
hal ini bukan melalui konsep naskah terlebih dahulu tetapi secara langsung
setelah dibacakan ayat tertentu oleh salah seorang murid yang ditunjuk oleh
al-Farra’. Karena keunikannya ini maka Abul Abbas kemudian berkomentar :
“Belum pernah seorang sebelumnya yang menempuh cara seperti
ini”[2]
Kata-kata inilah yang menimbulkan perdebatan apakah karya
al-Farra’ ini merupakan kitab tafsir sistematis pertama atau bukan. Terlepas
dari persoalan karya siapa yang sengaja disusun secara sistematis dalam hal
tafsir al-Qur’an yang pasti apa yang
dilakukan oleh al-Farra’ menunjukkan bahwa tidak seperti mufasir-mufasir
sebelumnya yang menafsirkan al-Qur’an secara sporadic sesuai dengan kebutuhan
spesifik, beliau sengaja menyusun kitab dengan cara sistematis dan lengkap
mengenai istilah-istilah dalam al-Qur’an yang memerlukan kupasan atau mungkin
menimbulkan pertanyaan. Itulah kenapa
kitab ini disebut dengan Ma’anil
Qur’an yang berarti makna kata-kata
tertentu dalam al-Qu’an sebagai pedoman yang menjawab persoalan yang timbul di
kalangan masyarakat menyangkut al-Qur’an
Dalam sebuah
sejarah menyebutkan ada sesorang yang bernama Muhammad Ibn al-Jahm al-Simari,
beliau salah satu dari banyaknya orang yang mencatat dari ceramah al-Farra,
beliau memiliki minat lebih dan intensitas yang lebih tinggi untuk menulis
ceramah al-Farra’. Hasil kodifikasinya atas ceramah al-Farra’ sempat dicek dan
dan dibaca ulang oleh al-Farra’ sendiri semasa hidupnya. Karena itulah mengapa al-Simari
menjadi salah satu perowi yang paling popular di antara perawi-perawi Ma’anil
Qur’an yang lainnya. Menurut al-Simari yang dikutib langsung oleh editor kitab ini, Kitab Ma’anil
Qur’an didektekan al-Farra’ dari hafalannya langsung tanpa catatan dalam
suatu majelis (forum yang dijadwalkan setiap Selasa dan Jum’at pagi sejak bulan
Ramadhan tahun 202 Hijriyahhingga di beberapa bulan tahun 204 Hijriyah.

No comments:
Post a Comment